Kemaja Kotak-kotak Jokowi: Komodifikasi Budaya Tanding

Prolog

Di dalam pemilihan umum kepada daerah (pemilukada) DKI Jakarta 2012 beberapa bulan silam, Joko Widodo (Jokowi) mencalonkan diri sebagai calon gubernur (cagub) DKI Jakarta atas rekomendasi partainya, Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI P). Mengingat peraturan pemilihan umum yang diberlaku di Indonesia di mana disetiap tingkatnya harus sepasang atau mencalonkan ketua bersamaan dengan wakilnya, maka Jokowi ditemani Zhōng Wànxié (钟万勰) alias Basuki Tjahaya Purnama (Ahok) sebagaimana keinginan Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) yang merupakan koalisi PDIP dalam meramaikan bursa pemilukada tersebut.

Seperti yang lazim dilakukan, setiap kandidat selalu memiliki ikon-ikon tertentu sebagai wujud keterwakilannya. Dalam kasus pasangan Jokowi-Ahok ini, ada beberapa ikon atau simbol yang diusung dan digunakan, seperti kemeja kotak-kotak dan slogan Jakarta Baru (JB)–yang bisa juga akronim dari Jokowi-Basuki.

Pemilukada Jakarta kali ini terbilang sengit, mulai dari non-partai, pejabat dari propinsi lain hingga tokoh nasional turut berkecimpung dalam meramaikan bursa pencalonan gubernur Jakarta periode 2012-2017, seperti pasangan Fauzi Bowo (Foke)-Nachrowi Ramli (Nara) yang merupakan calon incumbent di nomor urut satu; Hendardji Soepandji-Riza Patria sebagai kandidat nomor dua dari independent; nomor urut tiga diisi oleh Jokowi-Ahok; Hidayat N. Wahid-Didik J. Rachbini duduk di nomor urut empat; pasangan independent lainnya, Faisal Batubara-Biem T. Benjamin di nomor lima; dan Alex Noerdin-Nono Sampono diurutan keenam. Kepelikkan pemilukada Jakarta ini terlihat dari berlakunya dua kali putaran pemilihan, mengingat diputaran pertama tidak ada kandidat yang mampu memperoleh suara 50%+1.

Akhirnya, Jokowi-Ahok memenangkan pemilukada DKI Jakarta dengan presentase 53,82% (2.472.130) suara pada putaran kedua mengalahkan kandidat incumbent,Foke-Nara yang hanya mampu memperoleh 46,18% (2.120.815) suara.

Seperti yang telah dijabarkan di atas, di mana pasangan Jokowi-Ahok ini menjadikan kemeja kotak-kotak dan slogan Jakarta Baru sebagai ikon dan nilai jual yang diangkatnya. Alasan mantan Walikota Solo ini memilih kemeja kotak-kotak sebagai pakaian dinasnya ketika menjadi calon gubernur DKI Jakarta karena ada banyak suku, etnis di sana. Jakarta itu ibarat miniaturnya Indonesia, yang jelas etalasenya negara. Jadi, kemeja kotak-kotak ini mewakili simbol keberagaman masyarakat Jakarta.[1]

Mengingat Jokowi adalah figur yang fenomenal kala itu karena Jokowi banyak menghiasi layar kaca pada sesi pemberitaan terkait gebrakan langkanya dalam memimpin Solo, seperti aktif terjun ke lapangan dibandingkan berdiam diri di meja kantornya, mengusahakan mobil karya anak Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Solo untuk diproduksi massal dan menjadi mobil nasional, menjunjung tinggi humanisme ketika melakukan penertiban dan pembersihan lapak-lapak kaki lima (PKL), dan berbagai gebrakan baru yang terbilang langka. Maka, tak heran bila domino effect-nya terhadap ekspetasi masyarakat Jakarta terhadap Jokowi jika ia kelak terpilih dan memimpin Jakarta. Harapan masyarakat Jakarta sebagai voter dalam pemilukada Jakarta itu juga tercermin dari laris manisnya kemaja kotak-kotak yang menginterpretasikan dukungan mereka terhadap Jokowi.[2] Tak sampai di situ, media massa pun tak mau ketinggalan. Sejak Jakarta di bawah kepemimpinan Jokowi-Ahok, media massa selalu memburu aktifitas mereka disela-sela menjalankan tuhgas. Bahkan salah satu televisi berita swasta membuat rublik tersendiri tentang hal-hal yang dilakukan gubernur penikmat musik cadas itu. Jelas, hal ini berbeda jauh dan berbanding terbalik dengan intensitas pemberitaan media massa kala Jakarta dipimpin oleh Foke.

Dominasi keemasan kemeja kotak-kotak yang dimotori oleh Jokowi-Ahok ini, ternyata tak sampai disitu saja popularitasnya. Beberapa kandidat pemilukada di daerah lain yang menyematkan kemeja kotak-kotak a la Jokowi ini sebagai pakaian kebesaran mereka dalam setiap sesi pencalonan dan kampanye. Realitas ini dapat kita temui pada Pemilukada Jawa Barat, di mana Rieke Diah Pitaloka dan Teten Masduki juga memakai trade mark kemeja kotak-kotak khas Jokowi. Pasangan yang mencalonkan diri sebagai calon gubernur dan wakil gubernur Jawa Barat (Jabar) untuk periode 2013-2018 dari PDIP ini, merasa bangga bila di cap sebagai kloningan Jokowi.

Menurut Rieke, kemeja kotak-kotak yang dikenakan merupakan khas Jabar, yaitu cele. Motif cele yang diklaim sebagai warisan budaya masyarakat Sunda kelas pekerja itu sebenarnya mirip dengan kotak-kotak ala Jokowi saat bertarung di pilgub sebelum akhirnya menjadi Gubernur DKI Jakarta. Bedanya, kotak-kotaknya lebih besar dan nuansa warna birunya lebih gelap.[3]

Selain pasangan Rieke-Teten, kandidat Bupati Tangerang yang diusung Partai Demokrat, Ahmad Subadri yang ditemani oleh Mohammad Aufar Sadat Hutapea sebagai Wakilnya pun menapaki jejak Jowoki kala menghadapi persaingan dipentas pesta demokrasi. Menurut anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPR) RI asal Banten ini, beberapa hal dari Jokowi yang menjadi inspirasinya adalah kesederhanaan, dekat dengan rakyat, ramah, dan terbuka dengan semua orang.[4]

 

Kronologis Historis Singkat Kemeja Kotak-kotak

Dibalik kisah kesuksesan kemeja kotak-kotak dalam percaturan politik nasional, khususnya di bawah figur Jokowi yang sensasional, ternyata kemeja kotak-kotak ini pada awalnya merupakan pilihan berbusana–Pardon my French–para hipster.[5] Selain itu, kemeja kotak-kotak ini juga menjadi pakaian khas bangsa Skot di abad ke-17 dan bertranformasi menjadi simbol pemberontakan mereka kepada tirani Inggris yang kemudian melarangnya sejak pemberontakan tahun 1746. Akhir dekade 1960-an, gerakan persamaan derajat perempuan, mengadopsi motif kotak-kotak untuk melawan patriarki yang secara sewenang-wenang mengkotak-kotakkan motif pakaian berdasarkan jenis kelamin. Dekade 1990-an, flannel kotak-kotak merupakan simbol pemberontakan grunge dan kini anda akan sulit menemukan foto Kurt Cobain tanpa baju kotak-kotak itu.[6]

Tranformasi Nilai Kotak-kotak

Dekonstruksi. Dari awal keber-ada-an kemeja kotak-kotak seperti yang telah dijabarkan di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwasanya kemeja kotak-kotak ini telah menjadi idiom anti-kemapanan, perlawanan, pergerakan, atau resistensi terhadap nilai-nilai massa atau populer yang tumbuh subur tanpa ditopang nilai hakiki dan luhur.

Sebagaimana diketahui budaya tanding atau counter culture merupakan gerakan bawah tanah yang hidup di Amerika Serikat pada 1960-an. Kendati hidup pada riak-riak lorong gelap, istilah ini tetap tersohor. Sangking populernya istilah ini, Oxford English Dictionary menambahkannya sebagai idiom Inggris sejak akhir kurun itu atau awal 1970-an. Oxford merumuskan counter culture dalam ejaan Anglo-Amerika, sebagai “mode of life deliberately deviating from established social practices”. Singkatnya, budaya tanding mengacu pada gaya hidup yang menyimpang dari praktik sosial yang telah mapan.

Dari aspek sosiologis, budaya tanding mencerminkan konflik antargenerasi di Amerika ketika anak-anak muda menolak nilai, norma, dan perilaku budaya dominan kaum tua yang mereka pandang hegemonik dan memberlakukan kebenaran tunggal. Gerakan itu melibatkan mahasiswa Kiri Baru dan kaum bohemian yang gandrung membaca Hesse, Sigmund Freud, dan Karl Marx, menikmati musik jazz, lagu folk, dan menenggak narkoba dan mengulum seks bebas, tetapi juga menggalang protes politik. Mereka mengembangkan sikap egalitarian dan menolak etos rakus kapitalisme seperti terungkap dalam “America’s Uncivil Wars”, karya Mark Hamilton Lytle (2006).

Sedangkan Jokowi sendiri telah mendekonstruksi makna filosofis dari kemeja kotak-kotak yang telah tersohor sebelumnya.[7] Jokowi memberikan interpretasinya sendiri atas jiwa kotak-kotak yang ia sematkan. Jokowi mencoba membingkai keragaman masyarakat Jakarta yang terdiri dari berbagai suku, agama, ras dan antaretnis (SARA) dan meniupkan roh tersebut kepada kemeja kotak-kotak tersebut sehingga bermotif indah.

Komodifikasi. Selain perubahan makna dan jiwa kemeja kotak-kotak, nilai luhur kotak-kotak lainnya turut tercabik dari akarnya. Larisnya kemeja kotak-kotak dipasaran menandakan kemeja ini adalah wujud komodifikasi.[8] Komodifikasi adalah bentuk transformasi dari hubungan yang awalnya terbebas dari hal-hal yang sifatnya diperdagangkan, menjadi hubungan yang sifatnya komersil. Hal ini menunjukkan, hubungan sosial telah terreduksi menjadi hubungan pertukaran.

Karl Marx dalam bukunya “Communist Manifesto”, mendefinisikan komodifikasi sebagai “Callous Cash Payment”, yaitu pembayaran tunai yang tidak berperasaan. Menurut Marx, kaum kapitalis yang mempunyai kontrol atas apapun telah mengubah nilai-nilai personal menjadi nilai tukar, mengubah hubungan sentimental dalam keluarga menjadi hubungan yang mempergunakan uang. Sehingga segala sesuatu tidak akan bernilai jika tidak mempunyai nilai tukar. Komodifikasi turut terjadi dalam proses kerja, dimana aktivitas pekerjaan yang dilakukan oleh masing-masing pekerja telah bertransformasi menjadi kerja abstrak. Jadi dalam kerja abstrak, aktifitas kerja yang diperlakukan seolah tidak ada perbedaan kualitas untuk memudahkan pertukaran. Katakanlah pembuat arloji dengan pembuat sepatu. Mereka bekerja dengan kemampuan yang berbeda, dengan pengoperasian yang berbeda, dan tentunya dengan alat yang berbeda. Namun di dalam kerja abstrak, semua itu dianggap sama agar dapat dianggap seimbang untuk memudahkan pertukaran.

Budaya Pop. Kemaja kotak-kotak yang awalnya adalah simbol perlawanan (counter culture) terhadap tatanan masyarakat mayoritas. Kini telah menjadi budaya populer karena popularitas berbanding lurus dengan eskpetasi masyarakat terhadap Jokowi. Nilai adi luhur pembangkangan masyakarat bawah tanah telah berubah menjadi nilai dukungan terhadap Jokowi dan menjadi tolak ukur masyarakat konsumtif pada aspek sosial-politik kekinian.

Ditinjau dari segi keilmuan, telah terjadi pergeseran nilai. Hal ini merujuk seperti apa yang Jean Baudrillard rumuskan setelah mengembangkan beberapa konsep nilai yang diusung oleh Karl Marx, yaitu pergeseran nilai-guna dan nilai-tukar menjadi nilai-tanda dan nilai-tanda. Menurut Baudrillard, nilai-tanda dan nilai-simbol mewujudi dalam bentuk status, prestise, ekspresi gaya dan gaya hidup, kemewahan dan kehormatan dalah motif utama aktivitas konsumsi masyarakat konsumtif.[9]


[5] Secara sederhana, hipster bisa diartikan sebagai istilah sub-kultural yang ditemukan tahun 1940an untuk mewakili golongan orang-orang yang lebih menyukai jazz yang lebih ‘panas’.

[7] Barbara Johnson melihat dekonstruksi sebagai strategi mengurai teks. Hakikatnya, istilah dekonstruksi ini lebih dekat dengan pengertian epistemologis dari kata “analisis”, yang berarti “mengurai, melepaskan, membuka (to undo) ketimbang pengertian epistemologis kata “destruksi”.Tetapi, kemudian istilah dekonstruksi ini populer di bawah bayang-bayang Derrida karena ia telah memperdalam dan mempertajam teori dekonstruksi ini. Lihat Muhammad Al-Fayyadd, Derrida, Yogyakarta: LkiS, 2006, hal. 79

[8] Komodifikasi merupakan konsep yang diperkenalkan oleh Karl Marx dalam bukunya Communist Manifesto. Marx melihat komodifikasi untuk mengekspresikan konsep fundamental tentang bagaimana kapitalisme terbangun.

[9] Medhy Aginta Hidayat, Menggugat Modernisme: Mengenali Rentang Pemikiran Postmodernisme Jean Baudrillard, Yogyakarta: Jalasutra, 2012, hal.60

Post a Comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s