Menjamah Indonesia dari Pernikahan Kilat Aceng

Belakangan ini, media di Indonesia sedang tidak fokus pada permasalahan korupsi yang sudah merajalela, baik diaktori kepolisian dengan kasus Simulator SIM maupun yang menyeret partai penguasa–Demokrat–dalam kasus Hambalang dan Century. Semua muatan berita, tak terkecuali infotainment, berbondong membidik Aceng alias H. Muhammad Fikri bin H. Halil Munawar (40 tahun), Bupati Garut periode 2008-2013. Aceng menjadi spesial di mata para pemburu berita karena pernikahannya yang berlangsung selama empat hari dengan Fany Octora (18 tahun). Perkawinan singkat itu berlangsung sejak 14-18 Juli 1012.

Parahnya, eskalasi pergunjingan pernikahan kilat a la Bupati Garut ini tidak hanya beredar pada media dalam negeri saja, setidaknya ada beberapa media asing turut berkutat pada permasalahan ini, seperti Huffington PostCNNThe GuardianBBC NewsEuropean Union ExaminerThe NewsStraits TimesBradenton HeraldGlobal NewsHerald Sun, dan beberapa media asing lainnya. Apa yang menarik bagi media asing ini hingga melirik pernikahan Aceng mereka sadur? Yah, cara perceraian yang dilakoni Aceng ‘lah yang ternyata mampu menyedot perhatian media asing tersebut.

I Divorce YouSebagaimana diketahui, proses perceraian tersebut dilayangkan melalui pesan BlackBerry (BlackBerry Messanger atau BBM) dan hal ini umumnya  bukanlah praktek yang berlaku umum bagi masyarakat Barat. Di lain hal, perbedaan sudut pandang (angel) antara media dalam negeri dengan media asing dalam melihat kasus pernikahan siri Bupati Garut ini, menyadarkan kita bahwasanya media dalam negeri lebih fokus pada subjek politik Aceng selaku pemangku jabatan eksekutif tertinggi di Garut dibandingkan nilai-nilai sosial dan budaya yang terkandung di dalamnya.[1]

Terlepas dari hal itu, mekanisme perceraian yang nyentrik via handphone ini hingga menarik perhatian masyarakat dunia, jelas mengindikasikan bahwasanya masyarakat Barat mengalami culture shock terhadap apa yang ada di Indonesia, khususnya terkait pernikahan bawah tangan. Parahnya, perceraian Aceng melalui alat komunikasi dengan sms sebagai fiturnya bukanlah hal yang pertama kalinya ia lakukan. Sebelumnya, Aceng juga melakukan hal serupa ketika menceraikan Shinta Larasati (22 tahun) asal Karawang diusia pernikahannya yang kedua bulan (Maret – Juni 2011).

Secara teori, culture shock (gegar budaya) adalah istilah psikologis untuk menggambarkan keadaan dan perasaan seseorang menghadapi kondisi lingkungan sosial dan budaya yang berbeda. Istilah culture shock dalam istilah sosial pertama kali dikenalkan oleh seorang sosiolog bernama Kalervo Oberg di akhir tahun 1960.  Ia mendefinisikan culture shock sebagai “penyakit” yang diderita oleh individu yang hidup di luar lingkungan adat-istiadatnya. Istilah ini mengandung pengertian, adanya perasaan cemas, hilangnya arah, perasaan tidak tahu apa yang harus dilakukan atau tidak tahu bagaimana harus melakukan sesuatu, yang dialami oleh individu tersebut ketika ia berada dalam suatu lingkungan yang secara budaya maupun sosial baru. Oberg menjelaskan hal itu dipicu oleh kecemasan individu karena ia kehilangan simbol-simbol yang selama ini dikenalnya dalam interaksi sosial, terutama terjadi saat individu tinggal dalam budaya baru dalam jangka waktu yang relatif lama.

Shock Culture

Lantas, apakah gegar budaya yang dialami oleh masyarakat Barat tersebut menjadikan mereka mengadopsi mentah-mentah segala nilai yang digawangi oleh Aceng dalam perceraiannya nanti? Tentu saja tidak. Ada beberapa hal yang melatarbelakangi hal ini tak akan mudah diserap, diantaranya (1) tidak merasakan langsung. Masyarakat Barat mendapatkan informasi ini melalui media massa, yakni media online, sehingga mereka tidak merasakan langsung atmosfer itu dan hal yang mustahil bila perkara perceraian melalui pesan singkat ini mereka terima begitu saja dalam waktu dekat; (2) pola budaya yang berbeda drastis. Jika ditinjau berdasarkan pola solidaritas yang terbentuk, yaitu antara masyarakat Barat (solidaritas organik) dengan masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat Garut (solidaritas mekanik).[2] Hal ini menunjukkan corak solidaritas yang saling berbeda. Umumnya struktur dan pola masyarakat Barat lebih kompleks dan lebih matang, baik dalam bertindak dan berpikir, di mana umumnya mereka lebih berpikir dan bersifat rasional; dan (3) masyarakat Barat tidak mengenal nikah siri. Pernikahan siri ini pada dasarnya berangkat dari–tanpa bermaksud menyinggung maupun mendeskreditkan–agama Islam, di mana pernikahan tersebut dianggap sah bila memenuhi syarat dan rukun pernikahan. Ditinjau dari jumlah penganutnya, Islam merupakan agama minoritas di Barat. Selain itu, umumnya pernikahan siri juga sudah jarang dilakukan oleh umat Islam sendiri diberbagai belahan dunia, baik minoritas maupun mayoritas rakyatnya memeluk agama ini. Masyarakat Islam dunia sudah memulai cukup lama pernikahan yang sah secara agama dan negara, terkecuali dengan hal-hal tertentu–salah satunya seperti apa yang dilakukan oleh Aceng ini.

Singkatnya, pola perceraian ini tidak akan mendunia (mengglobal) atau lebih tepatnya glokalisasi, seperti Gangnam style yang kini sedang asik digandrungi masyarakat dunia.[3] Melainkan, memberikan gambaran baru kepada masyarakat Barat tentang kultur masyarakat Indonesia pada umumnya dan umat Islam pada khususnya. Memalukan!

Jika mengutip apa kata Presiden:

Saya sendiri sebagai seorang muslim, menentang keras cara-cara menceraikan isteri dengan menggunakan SMS seperti itu. Sangat-sangat melecehkan lembaga perkaw1nan dan martabat isteri dan keluarganya. Dan lagi, apa itu sah? Bagaimana kalau yang mengirimkan SMS itu orang lain, tetapi memakai HP si Aceng, misalnya? 


[1] Kata siri berasal dari bahasa Arab yaitu “sirri” atau “sir” yang berarti rahasia. Keberadaan nikah siri dikatakan sah secara agama, tapi tidak sah menurut negara karena pernikahan tidak dicatat di Kantor Urusan Agama. Nikah siri juga disebut dengan Nikah di Bawah Tangan

[2] Konsep solidaritas ini dirumuskan oleh Emile Durkheim berangkat dari sistem pembagian kerja pada masyarakat kota atau industri. Masyarakat yang ditandai oleh solidaritas mekanik menjadi satu dan padu karena suluruh orang adalah generalis. Ikatan dalam masyarakat seperti ini terjadi karena mereka terlibat dalam aktivitas yang sama dan memiliki tanggung jawab yang sama. Sebaliknya, masyarakat yang ditandai oleh solidaritas organik bertahan bersama justru dengan perbedaan yang ada di dalamnya, dengan fakta bahwa semua orang memiliki pekerjaan dan tanggung jawab yang berbeda-beda. Perbedaan mekanik dan organik diantaranya solidaritas mekanik dicirikan dengan masyarakat tradisional, tersegmentasi, hukum represif dan kesadaran kolektifnya tinggi. Sedangkan solidaritas organik dicirikan dengan masyarakat modern, terdiferensiasi, hukum restitutif, dan spesialisasi

[3] Istilah glokalisasi diperkenalkan oleh seorang ilmuwan sosial Amerika Serikat, George Ritzer. Menurut Ritzer, glokalisasi ini menunjuk pada kemampuan budaya lokal dalam merespon atau mempengaruhi budaya global. Budaya lokal di sini merujuk pada budaya masyarakat Timur. Dalam konstelasi globalisasi, budaya masyarakat Barat adalah faktor dominan dalam proses globalisasi yang kerap digunakan untuk menandakan “westernisasi” (proses pembaratan budaya)

Post a Comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s