Batik yang Tergugat

Kebudayaan adalah suatu produk manusia yang dilahirkan setelah melewati pergulatan pada alam ide. Seperti yang dirumuskan oleh Selo Soemardjan dan Soeleman Soemardi, kebudayaan sebagai semua hasil karya, rasa dan cipta masyarakat yang nantinya digunakan oleh manusia dalam pemenuhan kebutuhan kehidupannya sehari-hari. Hasil dari kebudayaan memiliki berbagai ragam bentuk dan corak yang menghiasi khazanah kehidupan manusia.

Di tahun 2009, kita disibukkan oleh pemberitaan media massa yang secara massif dengan intensitas yang cukup rutin disetiap waktu memberitakan tentang beberapa pengklaiman budaya yang dilakukan oleh negara tetangga, yaitu Malaysia atas beberapa budaya peninggalan nenek moyang kita, seperti angklung, tari pendet, tari kuda lumping, batik, dan berbagai kebudayaan lainnya.

Batik Yogya

Melihat fenomena itu–yang dahulu sempat terjadi, namun pemberitaannya redup dan kini kembali mencuat–membuat sebagian besar rakyat Indonesia geram atas pola perilaku yang dilakukan Malaysia dalam pariwara wisata. Berbagai letupan emosi rakyat Indonesia atas tragedi itu dimanifestasikan dengan beraneka cara melalui beragam media yang ada sebagai fasilitatornya. Pemerintah Indonesia pun menjadi sasaran warga negaranya sendiri karena terkesan tidak peduli atas budayanya sendiri. Hal tersebut dapat kita lihat di mana pemerintah seakan acuh tak acuh untuk mendaftarkan beberapa kebudayaan titipan nenek moyang tersebut ke UNESCO (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization).

Mengingat gelombang rekomendasi dari masyarakat luas cukup tinggi kepada pemerintah untuk sesegera mungkin mematenkan kebudayaan nasional pada lembaga yang berkaitan untuk menghindari kembali pencurian dan pengklaiman sepihak, maka pada bulan Agustus 2009, pemerintah mendaftarkan beberapa kebudayaan nasional ke UNESCO. Beberapa kebudayaan nasional yang didaftarkan antara lain seperti angklung dan batik.

Selang hamper sebulan, pada awal September, akhirnya UNESCO mendeklarasikan kebudayaan yang Indonesia daftarkan tersebut dalam Daftar Representatif sebagai Budaya Tak-benda Warisan Manusia (Representative List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity) dalam Sidang ke-4 Komite Antar-Pemerintah (Fourth Session of the Intergovernmental Committee) tentang Warisan Budaya Tak-benda di Abu Dhabi.

Pasca diakuinya batik sebagai salah satu kebudayaan Indonesia oleh UNESCO pada tahun 2009, spontan kita melakukan sebuah seremoni atas ‘kemenangan’ dan kian larut tenggelam dalam euforia tersebut. Tak hanya sebatas itu, banyak berbagai institusi, organisasi hingga lembaga–baik pemerintah maupun masyarakat umum–yang membuat acara dan himbauan kepada khalayak luas senusantara untuk mengenakan batik secara bersamaan pada hari pengakuan tersebut yang bertepatan pada hari Jumat, 2 September 2009. Selain itu, beberapa industri pakaian pun menggalakkan produksi mereka yang bernuansa batik secara massal dan massif.

Sudah barang tentu, dengan dua kejadian besar ini–produksi massal batik cetak yang digawangi oleh industri serta seremoni yang dilatarbelakangi untuk merayakan pengakuan dunia melalui UNESCO atas batik sebagai kebudayaan Indonesia–yang cukup momentum, membuat kita kian konsumtif dalam memaknai batik itu sendiri. Oleh sebab itu, tulisan ini nantinya akan mengupas dan menelaah lebih mendalam tentang perilaku konsumtif kita dengan pembenaran pemberdayaan suatu budaya, khususnya dalam sekup batik.

Kronologis Historis Singkat Batik

Menurut beberapa sumber, batik di Indonesia bermula dipenghujung abad ke-XVIII pada era kerajaan Majapahit. Lalu, mulai merambah ke beberapa kerajaan-kerajaan yang ada di Pulau Jawa, seperti di Solo dan Yogyakarta. Batik yang dihasilkan pada waktu itu ialah batik tulis hingga pada awal abad ke-XX dan batik cap baru dikenalkan pasca perang dunia kesatu (sekitar tahun 1920).

Batik memiliki keterkaitan erat dengan penyebaran ajaran Islam di Indonesia. Banyak daerah-daerah pusat perbatikkan di Jawa pada waktu itu adalah daerah-daerah santri hingga kemudian batik menjadi amunisi perjuangan ekonomi tokoh-tokoh pedagang Muslim untuk meruntuhkan dominasi perekonomian yang dikuasai oleh Belanda.

Batik adalah kesenian gambar di atas kain untuk pakaian yang menjadi kebudayaan keluarga raja-raja Indonesia zaman dulu. Awalnya, batik dikerjakan hanya terbatas oleh kraton saja dan hasilnya untuk pakaian raja dan keluarga beserta para pengikutnya. Mengingat banyaknya pengikut raja yang tinggal diluar kraton, maka kesenian batik ini dibawa oleh mereka keluar kraton dan dikerjakan ditempatnya masing-masing dan dikerjakan oleh perempuan untuk mengisi waktu luang mereka.

Di lain pihak, batik yang cukup merajai seantero nusantara adalah batik yang berasal dari Pekalongan. Populisnya batik pekalongan ini sebab-muasabnya karena seutuhnya bertopang pada ratusan pengusaha kecil sehingga produksi yang dihasilkannya pun lebih mendominasi pasar dibandingkan dengan batik yang diproduksi dari wilayah lainnya.

Di balik sejarah panjang batik tersebut, sudah tentu batik memiliki nilai filosofisnya yang terkandung pada saat pembuatannya karena seni membatik–terutama batik tulis–menandakan kesabaran pembuatnya pada setiap hiasan dibuat dengan teliti serta melalui proses yang cukup panjang. Oleh sebab itu, kesempurnaan motif menyiratkan ketenangan pembuatnya. Selain nilai-nilai filosofisnya terkandung dalam teknik pembuatannya, simbol-simbol (motif) dalam batik juga sarat dan kaya akan makna di mana memperlihatkan cara berfikir masyarakat pembuatnya. Adapun beberapa corak tersebut diantaranya adalah (1) Kawung. Motif kawung berbentuk teratai yang sedang merekah yang melambangkan kesucian dan umur panjang; (2) Parang. Motif ini berbentuk mata parang, melambangan kekuasaan dan kekuatan. Oleh sebab itu, batik dengan motif ini hanya boleh dikenakan oleh penguasa dan ksatria; dan (3) Sawat, yaitu motif yang berbentuk sayap dan hanya dikenakan oleh raja serta putra raja.

Selain karena berdasarkan pertimbangan  nilai estetis, motif batik diciptakan jua karena berdasarkan harapan-harapan yang dituangkan dalam bentuk banyak simbol, misalnya (1) Ragam Hias Slobong yang memiliki arti lancar dan longgar. Motif ini hanya digunakan untuk melayat dan bermakna harapan agar arwah orang yang meninggal dunia dapat dengan lancar menghadap kepada Tuhan serta diterima di sisi-Nya; dan (2) Ragam Hias Sida Mukti yang berarti “jadi bahagia”. Motif ini dikenakan oleh pengantin pria maupun wanita, dengan harapan keduanya akan memperoleh kebahagiaan selama hidupnya kelak ketika berumah tangga.

 

Transformasi Esensi Nilai Batik

Dari pemaparan di atas–baik yang sudah dipaparkan dalam pendahuluan dan tentang sejarah panjang tentang gaung batik–sudah jelas bahwa filosofi batik yang diamanatkan oleh nenek moyang kita telah kita gadaikan dan secara sepihak pula kita menggantikannya dengan sebuah sensasi semata demi mendapatkan eksistensi semu atas pemuasan nafsu konsumsi. Maka, bukan suatu hal yang mengherankan dan menjijikkan jika kita lebih bangga bila mampu mengenakan batik lalu mempertontonkannya jika dibandingkan dengan memproduksinya sendiri.

Memang, layaknya sebuah pakaian sudah selayaknya dikenakan di badan sesuai dengan esensi dari kegunaannya. Maka, sudah tepat dan benar tindakan kita terhadap batik tersebut di mana kita mengenakannya di badan dan mempertontonkannya di depan umum, baik dalam skala regional hingga global. Tetapi, tanpa tersadari bahwasanya kita telah menggugat nilai luhur batik dan lalu menjebloskannya ke dalam penjara atas tuduhan eksistensi budaya konsumsi dengan jeratan hukum komodifikasi.

Sesungguhnya, jika disadari secara sesadar-sadarnya di atas keyakinan seyakin-yakinnya, kita telah terhasut atas realitas tersebut. Karena, hamparan emosi kita tersebut dibidani oleh musibah yang merugikan kita yang sesungguhnya bersumber dari hasrat (yang menurut Sigmund Freud) ‘id’ yang mengontrol perilaku kita tersebut yang termanifestasi atas nama (lagi-lagi saya harus meminjam bahasa Sigmund Freud) ‘super ego’. Intervensi ‘id’ ini tidak pada ihwal itu saja, tetapi juga disambung atas perilaku kita selanjutnya di mana secara kolektif kita mengenakan batik pasca diproklamirkan sebagai kebudayaan Indonesia. Dan atas perilaku kita tersebut, sesungguhnya kita sendiri telah merubah esensi nilai luhur batik bergeser menjadi lebih populis dengan sensasi yang kita lekatkan padanya.

 

Wahana Refleksi

Dari kasus batik tersebut, jika kita pahami secara seksama dan lebih mendalam, sesungguhnya tanpa pernah disadari oleh kita sendiri bahwasanya kita sebagai manusia yang diciptakan sesempurna mungkin oleh Tuhan–bahkan lebih sempurna dari malaikat yang tak pernah ingkar kepada Sang Pencipta–lebih senang untuk mengkonsumsi sesuatu produk–baik yang berasal dari dalam negeri sendiri maupun dari mancanegara–dari pada untuk menghasilkan suatu produk yang berasal dari alam ide dalam berbagai varian tipe, baik apakah itu suatu barang dalam bentuk fisik maupun suatu gagasan. Dan perilaku tersebut kita begitu banggakan dan mengagung-agungkannya lebih dari pada yang kita perlakukan terhadap Tuhan. Dan sesungguhnya kasus batik tersebut merupakan salah satu cerminan dari perilaku manusia kekinian dari sekian perilaku kekinian yang serupa di mana manusia dalam bereaksi, baik dalam berucap, bersikap dan bertindak lebih kepada sensasi semata dibandingkan dengan esensinya sehingga pada akhirnya esensi nilai yang ada pada suatu objek tertentu telah ditransformasikan oleh manusia era millennium ketiga ini kearah yang tak terarah dan hanya menyajikan kesadaran dan eksistensi semu semata.

Post a Comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s