Musik sebagai Media Perlawanan atas Dominasi Budaya Pop

Diskursus mengenai perdebatan sengit antara budaya pop dengan budaya perlawanan (counter culture) terjadi sejak dasawarsa 1960-an. Nampaknya, hal ini tidak akan pernah usai mengingat piranti yang mengkonstruksi budaya pop ini adalah sistem kapitalis yang sudah mengakar kuat dalam kemasan laten dan mapan bercokol. Di lain sisi, budaya tanding selalu dibentuk oleh kaum minoritas yang merupakan refleksi atas realitas sosial yang disebabkan oleh Budaya pop itu sendiri. [1]

Budaya pop bisa dikatakan sebagai budaya mapan populis tanpa nilai. Hal ini dikarenakan konstruksi budaya pop dipancang oleh budaya konsumsi dan didukung oleh teknologi informasi baru (melalui media massa). Ihwal pengaruh teknologi sebagai salah satu latarbelakang lahirnya budaya populer adalah toxic potentialities (kemudharatan) dari perkembangan teknologi itu sendiri.[2]

Peran media massa sebagai salah satu aktor yang berperan penting dalam menciptakan budaya pop ini berawal sejak dasawarsa 1920-an dan 1930-an. Peran media massa dalam usaha mencabuli realitas terancang cukup sistematis dan kompleks. Pada tataran ini, budaya sudah terasuki oleh sistem industrialisasi yang di mana mencerminkan konsolidasi fetisisme komoditas, dominasi asas pertukaran dan meningkatkan kapitalisme negara. Industri budaya membentuk selera dan kecenderungan massa sehingga mencetak kesadaran mereka dengan cara menanamkan keinginan mereka atas kebutuhan-kebutuhan palsu.[3]

Salah satu contoh real mengenai begitu pekatnya indoktrinasi budaya pop dalam masyarakat (khususnya) dalam ranah musik, dapat kita lihat dalam gencarnya kampanye yang digaungkan, baik oleh musisi maupun industri musik, yang bertemakan cinta. Bisa dikatakan mengapa tema cinta yang diusung sebagai komoditi yang diproduksi secara berkala (kontiunitas)–terlepas dengan skema yang berbeda–hingga akhirnya tema ini menjadi mapan atau menduduki “chart nomor wahid” dikarenakan isu cinta tidak akan pernah ada titik nadirnya. Di lain sisi, Efek Rumah Kaca dalam lagunya yang berjudul “Cinta Melulu”, melihat fenomena ini disebabkan “karena kuping melayu”, sehingga “suka yang sendu-sendu, lagu cinta melulu”.

Adorno melihat bahwasanya musik pop yang digawangi oleh industri budaya didominasi oleh dua proses, yaitu standarisasi dan individualisme semu. Musik pop lambat laun satu dengan yang lainnya kian terdengar serupa yang dicirikan oleh suatu struktur inti di mana antara bagian yang satu dengan yang lainnya dapat dipertukarkan. Tetapi, inti ini disembunyikan oleh tambahan-tambahan sampingan, kebaruan, atau variasi gaya yang direkatkan pada lagu tersebut sebagai sesuatu yang sudah diprediksi sebelumnya. Standarisasi berkutit mengenai kemiripan mendasar di antara lagu-lagu pop. Untuk individualisme semu merujuk pada perbedaan-perbedaan yang sifatnya kebetulan.

Sedangkan budaya tanding sendiri kelahirannya dibidani oleh Festival Woodstock pada Agustus 1969 yang dipelopori oleh kaum Hippies.[4] Festival ini diselenggarakan untuk merayakan esensi kemanusiaan, perhatian, dan keprihatianan, juga perasaan terhadap apa yang terjadi di dunia sekeliling mereka. Festival yang dipenuhi penonton hingga 500.000 orang ini bertajuk “3 Days of peace and Music Festival”. Kala itu, Festival ini tergolong sukses dan fenomenal kendati Lang dan kawan-kawan rugi besar hingga 1,3 juta dolar AS.[5]

Tidak menutup kemungkinan bahwasanya budaya tanding yang awal mula kelahirannya sebagai jalan alternatif untuk menandingi dominasi budaya pop malah melacurkan dirinya menjadi bagian dari budaya pop itu sendiri, baik disadari atau pun tidak, semisal majalah “Adbusters ” yang akhirnya menjual sepatu lari buatannya sendiri. Majalah antikapitalisme pencetus gerakan internasional Hari Tanpa Belanja (Buy Nothing Day) ini akhirnya berjualan juga; buku-buku antikapitalisme seperti “ No Logo”  karangan Naomi Klein; dan film-film seperti American Beauty (Sam Mendes, 1999), The Matrix (Andy Wachowski, Lana Wachowski, 1999), ataupun Fight Club (David Fincher, 1999). Tetapi, dalam tulisan ini, hal tersebut tidak akan saya uraikan lebih jauh.[6]

Sejarah Kaum Hippies

Kaum Hippies diperkirakan lahir pada akhir dasawarsa 1960-an. Fenomena ini muncul di Amerika Barat, San Fransisco, negara bagian California. Bentuk mula pergerakan mereka tidak bersifat politik dan hanya ingin membedakan diri dengan masyarakat umum dengan cara mengundurkan diri dari kehidupan masyarakat umum. Mereka mempraktekkan kehidupan bebas dengan berpakaian seenaknya dan berusaha membebaskan diri dari kemelut dunia melalui saluran musik, seni, makanan vegetaris, dan sebagainya. Namun, mengingat pada saat itu pula tengah terjadi invansi Amerika Serikat terhadap Vietnam, dan berkembang beberapa isu yang sedang booming, seperti gerakan mahasiswa, gerakan HAM, gerakan lingkungan hidup, gerakan perempuan, dan sebagainya. Maka, mereka lalu secara massal mengusung pergerakan damai yang lebih massif dan progresif yang dimanifestasikan membawa bunga sebagai simbol cinta dan damai ketika sedang berdemo. Oleh sebab itu, golongan ini dikatakan juga sebagai “Flower Generation”.

Terlepas dari isu-isu yang sering mereka suarakan, pola hidup kaum Hippies tergolong cukup bebas dan hedon. Ganja, LSD (sejenis psikotropika), dan seks adalah suatu hal yang biasa saat itu. Justru kalau ada orang yang tidak memakainya, Jelas, bahwasanya mereka yang mencoba menolak budaya pop karena dehumanisme pada tataran massal, tetapi pola hidup mereka sendiri tidak didasari oleh suatu nilai.

Perkembangan Budaya Tanding di Indonesia

Kurang diketahui kepastian mengenai budaya tanding dalam ranah musik mulai digemakan oleh musisi Indonesia. Namun, jelas bahwasanya budaya tanding sudah ada sejak beberapa dasawarsa belakangan ini. Sebut saja diantaranya adalah Homicide, Thufail Alghifari, Marjinal, From Bakunin To Lacan, Tenggorok, Kastrasis, dan Efek Rumah Kaca serta beberapa grup band metal satu jari, seperti Tengkorak, Purgatory dan AfterMath.[7]

Diantara beberapa grup band tersebut, jelas memiliki latarbelakang yang berbeda mengenai genre hingga “doktrin” yang mereka tebarkan. Mulai dari hip-hop dengan olahan “vocal rap” dipadupadankan “beat” cepat hingga nada-nada cadas dengan triakan “scream” yang sudah menjadi ciri khas music rock alternative.

Terlepas dari perbedaan karakteristik dari masing-masing band di atas, mereka tetap berdiri di atas mainstream budaya perlawanan. Hal ini dapat kita simak dari lirik-lirik lagu mereka yang merupakan hasil adopsi dari kondisi realitas masyarakat, baik dalam aspek sosial, politik hingga agama pun menjadi sorotan utama.

======================
[1] Budaya tanding (counter culture) adalah istilah yang dimulai oleh Theodore Roszack, seorang penerbit, editor, dan pengarang asal Amerika Serikat, pada 1969 melalui bukunya, The Making of Counterculture. Lihat Taufik Adi Susilo, “Kultur Underground yang Pekak dan Berteriak di bawah Tanah”, Jogjakarta: Garasi, 2009, hal. 9.

[2] Nasikun, “Peran Ilmu-Ilmu Sosial dan Humaniora bagi Liberasi dan Humanisasi Teknologi” dalam Jurnal Interaksi Sosiologi FISIP Unsoed, Vol. 4 No.1 2007, hal. 2.

[3] Dominic Strinati, “Popular Culture: An Introduction to Theories of Popular Culture”, Terj. Abdul Muchid, Popular Culture: Pengantar Menuju Teori Budaya Populer, Jogjakarta: Ar-ruzz Media, 2009, hal. 107.

[4] Menurut Jesse Sheidlower, seorang leksikografer yang juga seorang editor dari Oxford English Dictionary, terms “hipster” dan “hippie” berasal dari kata “hip” yang sebenarnya arti aslinya tidak diketahui. Malcolm-X sendiri pernah mengungkapkan dalam biografinya, bahwa “hippy” sendiri merujuk pada orang kulit putih yang bertingkah seperti orang negro, bahkan melebihi tingkah polah negro itu sendiri. Banyak orang melambangkan kaum hippy dengan kebebasan dan ktidakteraturan. Lihat http://lt-lt.facebook.com/topic.php?uid=96568891040&topic=7912.

[5] Taufik Adi Susilo, Op. Cit., hal. 15.

[6] Heath, Joseph dan Andrew Potter, “The Rebel Sell”, Terj. Ronny Agustinus dan Paramita Ayuningtyas Palar, Radikal Itu Menjual: Budaya Perlawanan atau Budaya Pemasaran?, Jakarta: Antipasti, 2009, hal. 1.

[7] Istilah metal satu jari ini merupakan refleksi dari energi Tahwid ke-Esa-an Allah SWT.

Post a Comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s