Gelagat Para Penjagal

dalam pekat malam, ketika konflik bergumam. para dajjal merancang dan merakit isu. menghasut para biara, serupa rentetan makadam. dalam eskalasi perang salib, menuju hegemoni semu

karna mahasiswa adalah produk kapital gampangan. dikeberi dan ditadah hingga terkungkung dalam satu barisan. dengan upeti sebungkus nasi basi, berdiri tegap pasti. menunggu instruksi para pelaknat dari ruang sunyi

kaum Qabalis, penyembah Baphomet . Gurita Cikeas, kitab para pelaknat
pageatri tertuju, tanpa seragam martabat. tegap menantang, tak bertabiat, berlumut hujat

Prodem, kapitalis pembeli kepala massa aksi. untuk setiap sesi aksi yang tak mereka sadari. hingga mereka mati dalam rancangan para banci. tetap menjadi isu hangat untuk mengkebiri

dekonstruksi kehampaan para aktivis oplosan. mental ketengan, gelagat bajingan. argumen kemasan, gerakan tumpangan. hamba tanpa peradaban diperawankan para hedonis amplasan

para penadah, prostitusi ideologi. mengkebiri pagi dengan semangat revolusi. epistemologi muthahhari terpasung dalam labirin tirani. ketika moncong putih berafiliasi, beronani dalam bencana century

ka’bah terjungkal, berepilog menjadi tumbal. ketika selasar berubah menjadi arena para penjagal. provokator lebih binal dari lalat-lalat pasar. lantang berkoar, lebih keras dari biji zakar

makdam rima ini terajut bukan untuk sebuah karya. tapi akan menjadi kontra dogma para penghina. kepada mereka, tumbal para penjagal. yang terdogma, dari kerongkongan hingga lubang anal

takkan gentar, diri didera nista dan derita. oleh kalian, para despot berlindung di balik lantai tiga. yang hanya bisa bersenggama dan onani wacana. mengemis, menjilat hanya untuk sebuah harta semata

dalam tiap tutur kata yang kau sandar. membius mereka hingga akar alam bawah sadar. hingga merontakekang, meminta perang badar. mati sejajar, tanpa pernah mendapat mahar

karena Dekan kalian lebih hina dari para puritan. yang takkan mampu menyanding karisma sang Hasan. maka, takkan ada pardon pada setiap tapak yang kau harap. hingga tak ada udara lagi yang akan kau kudap

kaum utopis, orientasi materialis. menapik metafisis, kreasi kaum fasis
mencipta citra laksana ratu Balqis. yang lebih berbisa dari sosok Amien Rais

menari-nari di atas tesis korupsi. agar dapat berdiri pada puncak hegemoni. maka, kau bekali massa aksi ketika beronani. gagah berani, melakukan aksi, tanpa jati diri

rima ini terlahir tanpa atribut paramen. terajut pada stiap segmen fragmen. yang kau bangun secara permanen. rima ini ‘kan ku bai’at menjadi pawana. pada setiap titik pawaka yang kau cipta

Nietzsche terbahak, Khomeini terpental. Herzl tersenyum lebar, Gandhi tersesal. melihat kalian tersudut menjadi tumbal. masuk jurang perangkap para dajjal. (Jakarta, 2009)

Post a Comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s